Benarkah Santet yang Berbalik ke Pelaku, Mustahil Disembuhkan?

Bahasan kita kali ini kaitannya adalah seputar santet. Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, saya tidak ada layanan santet. Hanya melayani penyembuhan santet. Jadi apa yang akan saya sampaikan berikut, harap disimak sebagai sebuah wawasan saja, sebagai suatu pertimbangan sekaligus pelajaran bagi kita bersama.

Praktek santet, kadang disebut dengan istilah membunuh tanpa menyentuh. Yang dianggap santet sendiri, adalah sebuah upaya dari seseorang, untuk mencelakai orang lain, dari jarak jauh, dengan menggunakan ilmu hitam.

Dalam pembahasan kali ini sendiri, istilah santet saya pergunakan karena merupakan istilah yang paling familiar. Paling umum diketahui. Dibandingkan istilah tenung atau teluh. Meskipun dalam konteks yang akan saya sampaikan ini, istilah santet akan mewakili segala bentuk penyalahgunaan ilmu hitam.

Anda mungkin sudah pernah dengar, bahwa serangan ilmu hitam, termasuk santet, bisa berbalik kepada pengirimnya. Jadi bukannya mengenai orang yang dimaksud, malah mengenai dirinya sendiri.

Tetapi sudah pernahkah Anda mendengar, bahwa santet yang berbalik kepada si pelaku ini, akan jadi jauh lebih sulit disembuhkan, dibanding apabila santet tersebut benar-benar mengenai target?

Inilah, yang semestinya menjadi pertimbangan besar bagi kita. Pelajaran besar bagi kita. Bahwasannya keinginan kita untuk menyakiti orang lain, pada kenyataannya seringkali hanya akan menyakiti diri kita sendiri.


Baca Juga :


Kita bermaksud buruk pada seseorang, tetapi keburukan yang kita maksudkan, justru malah menjadi derita bagi kita. Lantas buat apa? Tidakkah sebaiknya kita doakan yang terbaik bagi sesama manusia, agar berbuah kebaikan juga bagi diri kita?

Tidak jarang saya menerima keluhan, dari seseorang yang merasa dirinya kena santet. Tetapi bukannya ingin disembuhkan, orang ini justru ngotot menginginkan agar santetnya dikembalikan pada si pengirim.

Padahal bukan itu intinya. Belum tentu apa yang dialaminya ini adalah benar-benar pengaruh santet. Dan kalaupun benar santet, jika berada pada situasi semacam ini, mestinya kita fokus untuk menyembuhkan diri kita. Bukan malah membalas dendam.

Toh kalaupun ini memang santet, tidak akan sampai santet itu tanpa sekehendak Tuhan. Jadi akan jauh lebih bijak, bila apa yang kita alami ini, kita sikapi sebagai sebuah cobaan, yang nantinya akan mendewasakan dan menguatkan diri kita. Dan semoga siapapun itu yang berniat buruk terhadap kita, agar lekas mendapatkan pencerahan dan jalan yang benar.

Tetap perlu menjadi catatan bagi kita, bahwa menyembuhkan santet yang berbalik itu jauh lebih sulit. Benar-benar tidak mudah. Sudah begitu, tidak jarang orang yang mengalaminya tidak mau mengaku. Ia berobat, tanpa menjelaskan bahwa apa yang dialaminya, adalah akibat dari ulahnya sendiri.

Padahal, secara luas diyakini, bahwa akibat dari santet yang berbalik itu, baru akan dapat disembuhkan, bila kita sudah mendapatkan maaf, dari orang yang seharusnya menjadi korban. Dan maafnya ini harus disertai keikhlasan.

Inilah yang juga saya harapkan untuk bisa menjadi pelajaran. Sekaligus pertimbangan. Jangan sekali-kali kita memutuskan main menyan, hanya karena sakit hati sesaat. Salah-salah, bila niat buruk Anda berbalik pada diri Anda sendiri, dampaknya akan berlipat puluhan kali.

Disinilah pentingnya keikhlasan. Pentingnya memaafkan. Bukan sekedar demi kebaikan orang yang kita maafkan saja, tetapi demi kebaikan kita sendiri juga. Sebab bila kita mampu memaafkan orang lain, akan jauh pikiran kita dari keinginan untuk menyalahgunakan ilmu hitam.

Bila jauh pikiran kita dari keinginan untuk menyalahgunakan ilmu hitam, maka akan jauh pula kita dari kemungkinan menjadi korban santet yang berbalik. Jadi untuk Anda yang saat ini sedang sakit hati, atau pernah sakit hati, bisa saya pastikan bahwa santet bukanlah solusi. Sedangkan bagi Anda yang saat ini sedang dijahati, atas seizin Tuhan masih bisa diobati.