Seluk Beluk Pesugihan Babi Ngepet

Sebagai wawasan saja, kali ini kita akan membahas tentang seluk beluk pesugihan babi ngepet. Tujuannya tentu saja sebagai bahan pengetahuan, karena lazimnya manusia akan merasa takut, pada hal-hal yang tidak dimengerti atau tidak diketahuinya.

Jadi dengan mengetahui seluk beluk pesugihan yang satu ini, diharapkan kita dapat lebih bijaksana, mawas diri, sekaligus berhati-hati.

Langsung saja, kita mulai dari pengertiannya dulu. Apa itu babi ngepet?

Babi ngepet diyakini sebagai hantu yang berwujud binatang babi. Hantu ini kemudian dipelihara oleh seorang manusia. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kekayaan dengan cepat. Masyarakat Jawa secara tradisional meyakini, bahwa orang yang memelihara babi ngepet, akan mendadak kaya secara tiba-tiba.

Caranya menjadi kaya ini bagaimana? Caranya adalah dengan mencuri uang milik orang lain. Dengan catatan, yang bisa diambil adalah uang yang belum dihitung secara pasti. Sehingga yang paling empuk menjadi sasaran kejahatan babi ngepet, adalah tetangga yang sedang atau baru saja menggelar hajat.

Karena orang yang sedang menggelar hajat, pastinya sibuk. Sehingga ada banyak dana yang jumlahnya belum terhitung, juga menerima sumbangan dari kerabat yang tidak bisa ia hitung atau rapikan seketika.

Lalu, mengapa disebut babi ngepet? Istilah ini merujuk pada metode si babi ketika beraksi, yaitu dengan mengepet-kepetkan atau menggosokkan ekornya ke tembok rumah orang yang diincar. Dengan begitu, si pemilik rumah akan tersirep. Mendadak ngantuk berat dan tertidur.

Kemudian si babi pun dengan leluasa masuk dan menguras uang si pemilik rumah. Inilah cara pertama.

Cara yang kedua, adalah si pelaku menjelma menjadi binatang babi dan melakukan pencurian tersebut. Bisa dibilang, cara kedua inilah yang lebih populer atau lebih familiar di telinga kita.

Sebelum bisa menjelma menjadi babi, seseorang harus datang ke lokasi pesugihan terlebih dulu. Di lokasi pesugihan yang didiami siluman babi, akan ada dukun atau kuncen yang siap membimbing calon pelaku.

Syarat ritualnya macam-macam, termasuk kadang adalah tumbal nyawa manusia. Lazimnya, yang diminta sebagai tumbal adalah anggota keluarga yang paling disayang, misalnya orang tua, adik, kakak, atau bahkan anak.
Bila semua syarat sudah terpenuhi, barulah ritual dapat dimulai.

Pelaku babi ngepet umumnya beraksi pada malam hari. Ia menyedot uang korban, dengan cara menggesek-nggesekkan tubuhnya ke dinding rumah orang yang bersangkutan. Secara ajaib, uang tersebut akan berpindah ke rumah si pelaku.

Aksi ini tidak dapat dilakukan seorang diri. Harus ada seorang lagi yang bertugas sebagai penjaga lilin. Lilin ini berfungsi sebagai lampu kehidupan si babi ngepet. Bila si babi dalam keadaan bahaya, maka nyala apinya akan bergerak-gerak tak tentu arah.

Disitulah peranan si penunggu lilin. Ia bertugas untuk segera meniup api lilin hingga padam, agar si pelaku yang menjelma sebagai babi dapat segera menghilang dan selamat.

Resikonya, jika api lilin mati sendiri, bukan mati karena ditiup si penjaga, maka kemungkinan si babi sudah tidak bernyawa. Sudah tertangkap warga, dan tidak bisa kembali lagi menjadi wujud manusia. Dengan begitu ia akan menjadi budak siluman selamanya.

Seorang pelaku babi ngepet, biasanya punya tiga karakter berikut. Yaitu antisosial, sering mengantuk, dan tidak religius. Tapi bukan berarti semua orang yang berkarakter seperti ini lantas bisa dipastikan memelihara babi ngepet.

Anti sosialnya adalah karena ia jarang bergaul. Lebih sering mengunci diri di rumah. Tidak mengijinkan siapapun masuk karena di dalam rumahnya ada banyak perlengkapan untuk beraksi.

Sedangkan sering mengantuknya adalah karena ia beraksi di malam hari. Sehingga jarang tidur atau bahkan tidak tidur sama sekali. Raut mukanya pun pucat, lesu, dan matanya merah.

Terakhir, ia memiliki karakter yang tidak religius, karena memang tidak lagi mengenal ibadah.

Kurang lebih seperti itulah, yang dapat saya sampaikan seputar seluk beluk pesugihan babi ngepet. Sekali lagi, bahasan ini dimaksudkan hanya sebagai wawasan saja. Saya secara pribadi berharap agar tidak satupun dari Anda sampai terpikir atau bahkan tertarik mencari kekayaan dengan cara yang demikian. Karena jelas, resikonya tidak sepadan dengan hasilnya.

Masih ada banyak cara untuk mendapatkan kekayaan yang halal, berkah, dan dapat kita pertanggungjawabkan.
Demikian dari saya, semoga bermanfaat, dan salam rahayu.